Part 19 Dosen Filsafat dan Email De’Nana
Caluk
tampil beda pada hari ini, dia mengenakan kacamata. Maka bersikaplah dia
seolah-olah seorang intelektual yang telah banyak menelan berpuluh-puluh buku.
Buku-bukunya juga mulai banyak dari novel terjemahan sampai ke buku filsafat dunia
sofi. Dia beli di tukang loak. Oh ya di tambah lagi dengan hp di gantungkan di
leher. Maka Cecep berfikir nanti sepulang kuliahpun mau beli gantungan hp.
” Luk
dimana kamu beli gantungan hp?” Cecep simata empat bertanya dan Caluk masih
tetap khusu’ membaca.
”Di
toko besi dan bangunan” sahutnya tanpa menoleh. Aku tersengal mendengar jawaban
Caluk. Cecep tampak ragu.
” Serius
Luk..?”
”Di
toko HP lah Cep...masak beli ginian aja gak tau” Suara Caluk meremehkan
kemampuan Cecep yang sebenarnya maklum saja jika terjadi begitu.
”Luk
tolong jumlahkan IPK ku dong, please” aku mengembik.
”
Aku tau kalian tidak bisa menjumlahkan IPK, sini..!” Caluk merampas buku dari
tanganku. Kacamata yang di kenakanya bukan untuk sok-sok-an tapi memang matanya
sudah minus. Oh alangkah bangganya punya mata minus karena itu tandanya sering digunakan
untuk membaca. Membaca berarti pekerjaan intelektual seorang mahasiswa dan itu
wajib. Soal mata, Cecep pun memiliki mata minus empat, dan dia tidak suka
membaca. Maka setiap mata kuliah apapun dia selalu tertinggal informasi. Satu
lagi, soal hp di gantung memang itu lagi ngetrend.
Di samping hp juga flashdiks asal jangan disket saja.
Aku melompat sejadi-jadinya setelah Caluk
mengakalkulasikan Indeks Prestasi Kumulatif ku, IPK ku 3,02. Mottoku ”hari ini
lebih baik dari kemarin” menjadi kenyataan. Kemudian dia tersenyum puas IPK-nya
jauh di atasku 3,23. Aku ikut tersenyum, pahit.
”Tolong
hitung punyaku luk” Cecep mengembik. Caluk menghitung tapi tidak mengiyakan.
”3,32...loh
kog kebalikan punyaku” Caluk berteriak. Cecep tersenyum puas sambil meliriku.
Aku duduk mematung. Dodo tidak masuk, ke pantai mengumpulkan batubara. Caluk
menghitung semua IPK kami.
”IPK
paling besar punya Pak Sas, 3.65” kami semua menyesal dan mengalah, Bapak itu
pantas mendapatkanya. Suara riuh. Tiba-tiba...
Suara-suara celetukan
sepatu yang sengaja di hentak-hentakan oleh pemiliknya sebenarnya tidak begitu
mengganggu konsentrasi belajar di ruang kelas KPI lantai tiga. Hanya saja jika
pemakainya menyeret paksa sepatu-sepatu tak bernyawa itu akan membuat suara dibuat-buat
dan nyilu di gigi. Suara itu silih berganti hadir di luar kelas kami, semakin
lama suara-suara itu semakin jelas, suara sepatu di seret oleh kaki pemiliknya.
Semua yang berada di
ruang itu sadar dan mendengar apa yang aku dengar dengan mengekpresikan
wajah-wajah keheranan, Pak Sas tiba-tiba mendekatkan jari tulunjuknya ke bibir,
sambil bibirnya sedikit di muncungkan. “Ssttt…..” yang berada di ruang itu
semua terdiam dan focus mendengar suara sepatu yang di seret paksa oleh
pemiliknya, semakin dekat. Benar suara itu dekat di balik pintu yang tertutup,
kami hanya menunggu beberapa detik lagi siapa yang berada di balik pintu itu.
Wajah Abi Faruq serius, karena memang wajahnya selalu serius di ikuti oleh
kami. Sementara Cecep sedang mengukir papan tulis dengan spidol, Spiderman juga
tiba-tiba .Cecep paling suka menggambar Spiderman dimanapun dia bisa
menggambar.Di papan tulis, di buku tulis milik orang, di sepatu kets Clara ataupun di Tas miliku.
“Tok…tok…” kami menahan
nafas, cecep langsung mengambil langkah
seribu dan menyambar kursinya
“Assalamu’alaikum..”
Suara laki-laki di balik pintu itu berat. Kami tidak berani menebak siapa orang
yang berada di balik pintu .Yang jelas kami sedang menunggu Dosen
Filsafat.Tanpa menunggu lama kami menyahut dari dalam.
“Wa’alaikum salam..” Jawab
kami serentak sambil memperbaiki duduk kami masing-masing.
Pintu berderit
perlahan-lahan terbuka, kami dalam kondisi serius menunggu siapa orang di balik
pintu yang penuh teka-teki. Muncul sosok kecil, mungil, celana dasar cokelat
sepatu hitam baju kemeja orange model 80-an, yang paling menonjol bapak yang
kami tunggu –tunggu ini memakai tas hitam yang sudah tidak bisa di kancingkan
lagi, terlihat dari dalam tas mengepul buku-bukunya. Rambutnya putih , mungkin
usianya sekitar 50 ke atas kacamatanya tebal, makanya ketika melihat ke arahnya
kami begitu lama seperti orang yang takjub, manusia antik. Lama kemudian bapak ini
menyunggingkan senyum, jalanya sudah tidak sempurna, aku hampir tidak bisa
menahan tawa, salah satu gigi depan yang di tampakannya berlapis emas.
Cecep lebih dari aku
yang benar tidak bisa menahan tawanya, sehingga kami sekelas tertawa kegelian. Bapak
tadi juga ikut tertawa. Bapak produk zaman perjuangan-an itu mengeluarkan
buku-buku dalam tasnya yang tidak di kancing lagi dan memamerkannya kepada
kami. Kemudian tanganya mengotak-atik HP lebih dari 10 menit, kami hanya
terdiam menunggu apa yang akan di sampaikan oleh Bapak itu.
“Gimana cara pakai HP
ini..?” tiba-tiba Bapak itu melontarkan pertanyaan kepada kami. Kembali Cecep
mengekpresikan wajah hampir tidak bisa menahan tawa, mata kami mengawasi
tingkah jahil Cecep.
Ternyata memang benar bapak
ini yang kami tunggu, dosen Filsafat. Penampilanya nyaris tidak seimbang dengan
ilmu yang ia punya. Caluk sampai tidak
percaya di kampus sebesar ini masih ada
Dosen yang sangat sederhana seperi Pak Zainudin yang kemudian kami panggil Pak
Udin. Seharusnya Dosen-Dosen itu mencontoh Pak Udin. Sungguh aneh, satu dekan
di beri satu kendaraan dinas, anggaranya tentu dari mahasiswa, uang kuliah
setiap tahun selalu naik. Pendidikan hanya layak bagi mereka juga yang layak
mendapatkanya karena memiliki finansial. Bagi kaum miskin, melarat kaum
marjinal. Pendidikan adalah tangga gantung diri, mencekik dan sakit tak
terbantahkan.
Tidak ada yang membuka
mata, melakukan seperti Pak udin lakukan, Pak Udin bukan orang sederhana dan
tidak mampu membeli mobil tapi dia lebih suka mensedekahkan gajinya untuk yatim
piatu, bukan berlomba-lomba membeli mobil mewah. Zuhud bahasa religinya.
Seusai kuliah kami
masih terbengong-bengong dengan apa yang disampaikan oleh Pak Dosen barusan. Dia
mampu merasuki alam bawah sadar kami yang naïf ini, maka mulailah Tyo sang
aktifis IRM berceloteh.
“ Bagus ya kalau semua
dosen seperti beliau, kita sebagai kader contoh beliau”
“ Sebenarnya dalam
tafsir surat Al-Ma’un. Salah satunya Ahmad Dahlan menyantuni anak-anak yatim
dan orang miskin , dimandikan, disekolahkan dengan cuma-cuma. Sekarang
pendidikan yang ada label Muhammadiyah-nya nyaris mencekik alias mahalnya
selangit, oke dengan alasan di barengi dengan fasilitas yang memadai di zaman
se-modern ini, tapi tetap saja tujuan awal berdirinya Muhammadiyah di coreng
oleh gaya hidup hedonis materialism sang pengambil kebijakan”.
“Pendidikan tidak
selalu menjadi ukuran dan bukan jaminan kesuksesan seseorang.” Kata Abi Faruq
“Kalau begitu untuk apa
kamu kuliah bro..?” Seru Tyo
“Apakah saat ini
muhammadiyah masih advokad terhadap anak-anak yang ingin mengantongi mimpinya
dengan mendapatkan sekolah bermutu dan murah? Omong kosong dengan semua itu.”
“Jangan ghibah kalian
belum tentu bisa melakukan semua ini. Udah ah pulang”
“Gimana aktifis satu
ini, tidak suka diskusi”
Sepulang kuliah aku
mendapat pelajaran yang berharga tentang ke-zuhud-an. Sederhana, bersahaja,
mengurangi cinta dunia dan mengingat sepenuhnya dengan akhirat. Tak usah risau
soal rezeki, Tuhan yang punya kuasa.
Sebelum sampai ke
asrama ku sempatkan ke warnet, bukan untuk cari referensi tapi buka FB dan
kiriman email de’Nana, berikut isi emailnya:
Sabar
dan ikhlas, betapapun itu terjadinya, proses terbentuknya tidaklah langsung
secara instan, Tetapi melalui upaya kerja keras dan proses yang sangat
panjang.Untuk menuju tangga teratas sabar dan ikhlas, yakinku banyak menempuh
jalanan berdebu, berliku, batu kerikil , duri di jalanan, seolah-olah itu
membatasi dan mengukungkan kita bahwa tak ada alamat yang tepat untuk tujuan
mulia sekalipun.
Guncangan
pikiran, hati, paduan perasaan yang hebat bukan? namun terkadang melangkahi
nalar berfikir rasional kita . Dengan begitu sistem kerja otak kita di buatlah
sekacau mungkin, yang hayali seolah-olah nyata, padahal kita sadar terjaga
sedang duduk manis di dunia nyata, namun jika kita mampu menahan sabar
sedikit saja maka akan di gantikan dengan sejuta manisnya kejutan.
Baiklah....,sekali lagi bukan di dunia yang hanya menawarkan sebatas
angan-angan. Mari kita memulainya:
Aku.....Aku
ternyata lebih siap menghadapi kesenangan daripada kehilangan, Maka lahirlah
kesedihan, aku lupa pada petuah lama yang mengatakan bahwa pertemuan
memungkinkan perpisahan, anehnya aku memilih menyenangkan hati, padahal
kenyataan sebenarnya amat pahit.
Aku
bukan wonder women, aku seperti perempuan, orang bilang mahluk lemah, seperti
boneka keropos, ahhh tidak semuanya keliru. Seperti perempuan kebanyakan,
tidaklah mudah meningggalkan taman hati yang sedang mekar bersemi, indah di
pandang mata mewangi menyubur harapan. Terlena aku pada fatamorgana dunia yang
fana, tak ada yang menyambut tanganku ketika aku sedang terperih jatuh
kesakitan, seolah-olah dunia hanya menatapku iba dan dengan malasnya menyuruhku
berdiri sendiri dari kelemahan betapapun beratnya.
Lama,
sangat lama, butuh proses yang teramat lama, untuk mengobati, untuk membalut
luka yang masih deras mengalir darahnya, anehnya dalam setiap kealpaan aku
berencana untuk mencaci memaki dengan kebodohan diri sendiri, tetapi hatiku
terus menasehati, itu tidak semuanya benar, bahkan tidak sama sekali.
Samalah
lamanya untuk menanamkan bunga di taman ini, di siramnya setiap hari, begitu
teliti dan rutin tanpa jeda setiap detikpun, dirawatnya hingga tumbuh subur,
indah di pandang mata, membuncah di kalbu, tak dapat di lukiskan dengan 1000
kata, aduhai bagaimanalah cara mengatakanya .
Ku
hanya menikmati bahagia ini dalam-dalam tanpa seorangpun tau,biar hanya
aku saja yang tahu. Namun, dewi fortuna tidak selamanya berpihak padaku, tanpa
disadari aku tengah menari diatas perih orang lain. Sungguh itu bukan mauku,
percayalah…
Kedalaman
hati berfikir, merasakan , naluri sebagai seorang perempuan, lembut dan mudah
tersentuh perasaanya. Aku bertekad jua akan mengakhiri roman yang belum tentu
berakhir bahagia ini, hari demi hari aku lalui. Tuhan ternyata aku bisa, aku
bisa melepaskan semua perasaan itu tanpa ada bekas sedikitpun, aku lah pemenangnya?
tidakk!! ternyata aku keliru
Ternyata
taman hatiku tetap di pupuknya dan tetap bersemi, aku lelah melawan pada
skenarioNya. Aku serahkan semuanya kepada Tuhan. Tapi, endingnya begitu
memilukan, dikubur saja hidup-hidup taman hati itu hingga tak bersisa tanpa
ampun dan tanpa belas kasihan sedikitpun. Tuhan,bagaimanalah ini? Betapa
murahnya hidup ini, dia takan dengar lagi cerita-ceritaku, dia dan aku hanya
tinggal sepenggal kenang-kenangan indah, dan semua yang indah saja.Perih tak
terkirakan, Tak terkatakan, maka disini tentu tak di tuliskan . Aku hanya ingin
mengenang yang indah-indah saja tentangnya, linangan air mata , mata suram dan
kepedihan yang dia torehkan untukku, betapa hebat aniaya yang bukan jadi haku
sendiri diberikanya untuku hingga memadamkan sinar mataku, sungguh aku telah
melupakanya, meski belum bisa, aku berjanji akan melupakanya. Ingat itu
janjiku.
Aku
memang tidak cerdas berfikir tapi hatiku ini masih bisa menerima kebenaran
meski setitik. Lama juga ternyata aku bertaut dengan masa lalu yang keliru, dan
sekarang aku sadar sedang bertengger di muka bumi dengan balutan
rasa gelisah tak tentu arah kiblatnya.
Disaat
seperti itu, aku perlahan sadar betapa rapuhnya diri yang sok tegar dan kuat
tanpa bantuaNya. Teringat pada teman yang mengatakan, sahabat yang baik maka ia
akan mengingatkan kita kepada Tuhan dan akan semakin membawa kita pada
kehidupan yang positif, jauh dari aniaya, di saat itulah mata hatiku mulai bisa
menerima kebenaran. Tuhan begitu lamanya aku jauh dari jalanMu. Hasbunallah
wanimal wakil , cukup Allah sebagai penolong dan Allah pula sebaik-baik
pelindung.Wahai masalah datanglah dengan kesombonganmu, aku tak takut, aku
punya Allah.
Demi
Allah yang maha Esa, sesungguhnya tidak disediakan jalan mudah untuk
menuju cintaMu, menitisnya air mata tatkala rindu, menitisnya air mata tatkala
jauh. Namun janji Allah tetap segar dan mekar tanpa penghianatan karena aku
tetap yakin.
Satu
hal, aku tidak pernah menyesal mengenalnya, memberikan separuh hati ini
untuknya, sungguh yang ditanamkanya memberikan efek positif pada diriku, aku
dapat menyenyam ikhlas dan sabar, kuat dengan takdirMu.
Sekarang
aku berdiri dari keterpurukanku, menggantikan hati yang telah pergi dengan
sepotong hati yang baru, tidak ragu aku akan hal itu, Allah berpihak padaku.
Doa
ku : Ya Allah sekiranya aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang
melabuhkan cintanya kepadaMu, agar bertambah kekuatanku untuk mencintaiMu.
amiin. Desember kelabu, itu sudah cukup menjadi catatan sejarah kelabu dalam
hidup ku, meski ini hanya setitik mengenai hati yang tidak terpaut cinta
padaNya, sungguh keterlaluan manusia yang begitu sempurna mencintai dunia
secara berlebihan padahal cinta yang hakiki hanya milik Illahi.
Email-email
de’Nana ku namai catatan yang tercecer, dia sedang labil butuh tempat untuk
curhat. Baiklah sudah kukatakan dari semula aku bersedia menjadi tempat
curhatnya, aku si pendengar yang baik, enjoying
in my life.

0 komentar