KVL Part I

Part 19 Dosen Filsafat dan Email De’Nana

21.21

Part 19 Dosen Filsafat dan Email De’Nana
Caluk tampil beda pada hari ini, dia mengenakan kacamata. Maka bersikaplah dia seolah-olah seorang intelektual yang telah banyak menelan berpuluh-puluh buku. Buku-bukunya juga mulai banyak dari  novel terjemahan sampai ke buku filsafat dunia sofi. Dia beli di tukang loak. Oh ya di tambah lagi dengan hp di gantungkan di leher. Maka Cecep berfikir nanti sepulang kuliahpun  mau beli gantungan hp.
” Luk dimana kamu beli gantungan hp?” Cecep simata empat bertanya dan Caluk masih tetap khusu’ membaca.
”Di toko besi dan bangunan” sahutnya tanpa menoleh. Aku tersengal mendengar jawaban Caluk. Cecep tampak ragu.
” Serius Luk..?”
”Di toko HP lah Cep...masak beli ginian aja gak tau” Suara Caluk meremehkan kemampuan Cecep yang sebenarnya maklum saja jika terjadi begitu.
”Luk tolong jumlahkan IPK ku dong, please” aku mengembik.
” Aku tau kalian tidak bisa menjumlahkan IPK, sini..!” Caluk merampas buku dari tanganku. Kacamata yang di kenakanya bukan untuk sok-sok-an tapi memang matanya sudah minus. Oh alangkah bangganya punya mata minus karena itu tandanya sering digunakan untuk membaca. Membaca berarti pekerjaan intelektual seorang mahasiswa dan itu wajib. Soal mata, Cecep pun memiliki mata minus empat, dan dia tidak suka membaca. Maka setiap mata kuliah apapun dia selalu tertinggal informasi. Satu lagi, soal hp di gantung memang itu lagi ngetrend. Di samping hp juga flashdiks asal jangan disket saja.
 Aku melompat sejadi-jadinya setelah Caluk mengakalkulasikan Indeks Prestasi Kumulatif ku, IPK ku 3,02. Mottoku ”hari ini lebih baik dari kemarin” menjadi kenyataan. Kemudian dia tersenyum puas IPK-nya jauh di atasku 3,23. Aku ikut tersenyum, pahit.
”Tolong hitung punyaku luk” Cecep mengembik. Caluk menghitung tapi tidak mengiyakan.
”3,32...loh kog kebalikan punyaku” Caluk berteriak. Cecep tersenyum puas sambil meliriku. Aku duduk mematung. Dodo tidak masuk, ke pantai mengumpulkan batubara. Caluk menghitung semua IPK kami.
”IPK paling besar punya Pak Sas, 3.65” kami semua menyesal dan mengalah, Bapak itu pantas mendapatkanya. Suara riuh. Tiba-tiba...
Suara-suara celetukan sepatu yang sengaja di hentak-hentakan oleh pemiliknya sebenarnya tidak begitu mengganggu konsentrasi belajar di ruang kelas KPI lantai tiga. Hanya saja jika pemakainya menyeret paksa sepatu-sepatu tak bernyawa itu akan membuat suara dibuat-buat dan nyilu di gigi. Suara itu silih berganti hadir di luar kelas kami, semakin lama suara-suara itu semakin jelas, suara sepatu di seret oleh kaki pemiliknya.
Semua yang berada di ruang itu sadar dan mendengar apa yang aku dengar dengan mengekpresikan wajah-wajah keheranan, Pak Sas tiba-tiba mendekatkan jari tulunjuknya ke bibir, sambil bibirnya sedikit di muncungkan. “Ssttt…..” yang berada di ruang itu semua terdiam dan focus mendengar suara sepatu yang di seret paksa oleh pemiliknya, semakin dekat. Benar suara itu dekat di balik pintu yang tertutup, kami hanya menunggu beberapa detik lagi siapa yang berada di balik pintu itu. Wajah Abi Faruq serius, karena memang wajahnya selalu serius di ikuti oleh kami. Sementara Cecep sedang mengukir papan tulis dengan spidol, Spiderman juga tiba-tiba .Cecep paling suka menggambar Spiderman dimanapun dia bisa menggambar.Di papan tulis, di buku tulis milik orang, di sepatu kets  Clara ataupun di Tas miliku.
“Tok…tok…” kami menahan nafas, cecep langsung  mengambil langkah seribu dan menyambar kursinya
“Assalamu’alaikum..” Suara laki-laki di balik pintu itu berat. Kami tidak berani menebak siapa orang yang berada di balik pintu .Yang jelas kami sedang menunggu Dosen Filsafat.Tanpa menunggu lama kami menyahut dari dalam.
“Wa’alaikum salam..” Jawab kami serentak sambil memperbaiki duduk kami masing-masing.
Pintu berderit perlahan-lahan terbuka, kami dalam kondisi serius menunggu siapa orang di balik pintu yang penuh teka-teki. Muncul sosok kecil, mungil, celana dasar cokelat sepatu hitam baju kemeja orange model 80-an, yang paling menonjol bapak yang kami tunggu –tunggu ini memakai tas hitam yang sudah tidak bisa di kancingkan lagi, terlihat dari dalam tas mengepul buku-bukunya. Rambutnya putih , mungkin usianya sekitar 50 ke atas kacamatanya tebal, makanya ketika melihat ke arahnya kami begitu lama seperti orang yang takjub, manusia antik. Lama kemudian bapak ini menyunggingkan senyum, jalanya sudah tidak sempurna, aku hampir tidak bisa menahan tawa, salah satu gigi depan yang di tampakannya berlapis emas.
Cecep lebih dari aku yang benar tidak bisa menahan tawanya, sehingga kami sekelas tertawa kegelian. Bapak tadi juga ikut tertawa. Bapak produk zaman perjuangan-an itu mengeluarkan buku-buku dalam tasnya yang tidak di kancing lagi dan memamerkannya kepada kami. Kemudian tanganya mengotak-atik HP lebih dari 10 menit, kami hanya terdiam menunggu apa yang akan di sampaikan oleh Bapak itu.
“Gimana cara pakai HP ini..?” tiba-tiba Bapak itu melontarkan pertanyaan kepada kami. Kembali Cecep mengekpresikan wajah hampir tidak bisa menahan tawa, mata kami mengawasi tingkah jahil Cecep.
Ternyata memang benar bapak ini yang kami tunggu, dosen Filsafat. Penampilanya nyaris tidak seimbang dengan ilmu yang ia punya. Caluk sampai  tidak percaya  di kampus sebesar ini masih ada Dosen yang sangat sederhana seperi Pak Zainudin yang kemudian kami panggil Pak Udin. Seharusnya Dosen-Dosen itu mencontoh Pak Udin. Sungguh aneh, satu dekan di beri satu kendaraan dinas, anggaranya tentu dari mahasiswa, uang kuliah setiap tahun selalu naik. Pendidikan hanya layak bagi mereka juga yang layak mendapatkanya karena memiliki finansial. Bagi kaum miskin, melarat kaum marjinal. Pendidikan adalah tangga gantung diri, mencekik dan sakit tak terbantahkan.
Tidak ada yang membuka mata, melakukan seperti Pak udin lakukan, Pak Udin bukan orang sederhana dan tidak mampu membeli mobil tapi dia lebih suka mensedekahkan gajinya untuk yatim piatu, bukan berlomba-lomba membeli mobil mewah. Zuhud bahasa religinya.
Seusai kuliah kami masih terbengong-bengong dengan apa yang disampaikan oleh Pak Dosen barusan. Dia mampu merasuki alam bawah sadar kami yang naïf ini, maka mulailah Tyo sang aktifis IRM berceloteh.
“ Bagus ya kalau semua dosen seperti beliau, kita sebagai kader contoh beliau”
“ Sebenarnya dalam tafsir surat Al-Ma’un. Salah satunya Ahmad Dahlan menyantuni anak-anak yatim dan orang miskin , dimandikan, disekolahkan dengan cuma-cuma. Sekarang pendidikan yang ada label Muhammadiyah-nya nyaris mencekik alias mahalnya selangit, oke dengan alasan di barengi dengan fasilitas yang memadai di zaman se-modern ini, tapi tetap saja tujuan awal berdirinya Muhammadiyah di coreng oleh gaya hidup hedonis materialism sang pengambil kebijakan”.
“Pendidikan tidak selalu menjadi ukuran dan bukan jaminan kesuksesan seseorang.” Kata Abi Faruq
“Kalau begitu untuk apa kamu kuliah bro..?” Seru Tyo
“Apakah saat ini muhammadiyah masih advokad terhadap anak-anak yang ingin mengantongi mimpinya dengan mendapatkan sekolah bermutu dan murah? Omong kosong dengan semua itu.”
“Jangan ghibah kalian belum tentu bisa melakukan semua ini. Udah ah pulang”
“Gimana aktifis satu ini, tidak suka diskusi”
Sepulang kuliah aku mendapat pelajaran yang berharga tentang ke-zuhud-an. Sederhana, bersahaja, mengurangi cinta dunia dan mengingat sepenuhnya dengan akhirat. Tak usah risau soal rezeki, Tuhan yang punya kuasa.
Sebelum sampai ke asrama ku sempatkan ke warnet, bukan untuk cari referensi tapi buka FB dan kiriman email de’Nana, berikut isi emailnya:
Sabar dan ikhlas, betapapun itu terjadinya, proses terbentuknya tidaklah langsung secara instan, Tetapi melalui upaya kerja keras dan proses yang sangat panjang.Untuk menuju tangga teratas sabar dan ikhlas, yakinku banyak menempuh jalanan berdebu, berliku, batu kerikil , duri di jalanan, seolah-olah itu membatasi dan mengukungkan kita bahwa tak ada alamat yang tepat untuk tujuan mulia sekalipun.
Guncangan pikiran, hati, paduan perasaan yang hebat bukan? namun terkadang melangkahi nalar berfikir rasional kita . Dengan begitu sistem kerja otak kita di buatlah sekacau mungkin, yang hayali seolah-olah nyata, padahal kita sadar terjaga sedang duduk manis di dunia nyata,  namun jika kita mampu menahan sabar sedikit saja maka akan di gantikan dengan sejuta manisnya kejutan. Baiklah....,sekali lagi bukan di dunia yang hanya menawarkan sebatas angan-angan. Mari kita memulainya:
Aku.....Aku ternyata lebih siap menghadapi kesenangan daripada kehilangan, Maka lahirlah kesedihan, aku lupa pada petuah lama  yang mengatakan bahwa pertemuan memungkinkan perpisahan, anehnya aku memilih menyenangkan hati, padahal kenyataan sebenarnya amat pahit.
Aku bukan wonder women, aku seperti perempuan, orang bilang mahluk lemah, seperti boneka keropos, ahhh tidak semuanya keliru. Seperti perempuan kebanyakan, tidaklah mudah meningggalkan taman hati yang sedang mekar bersemi, indah di pandang mata mewangi menyubur harapan. Terlena aku pada fatamorgana dunia yang fana, tak ada yang menyambut tanganku ketika aku sedang terperih jatuh kesakitan, seolah-olah dunia hanya menatapku iba dan dengan malasnya menyuruhku berdiri sendiri dari kelemahan betapapun beratnya.
Lama, sangat lama, butuh proses yang teramat lama, untuk mengobati, untuk membalut luka yang masih deras mengalir darahnya, anehnya dalam setiap kealpaan aku berencana untuk mencaci memaki dengan kebodohan diri sendiri, tetapi hatiku terus menasehati, itu tidak semuanya benar, bahkan tidak sama sekali.
Samalah lamanya untuk menanamkan bunga di taman ini, di siramnya setiap hari, begitu teliti dan rutin tanpa jeda setiap detikpun, dirawatnya hingga tumbuh subur, indah di pandang mata, membuncah di kalbu, tak dapat di lukiskan dengan 1000 kata, aduhai bagaimanalah cara mengatakanya .
Ku hanya menikmati  bahagia ini dalam-dalam tanpa seorangpun tau,biar hanya aku saja yang tahu. Namun, dewi fortuna tidak selamanya berpihak padaku, tanpa disadari aku tengah menari diatas perih orang lain. Sungguh itu bukan mauku, percayalah…
Kedalaman hati berfikir, merasakan , naluri sebagai seorang perempuan, lembut dan mudah tersentuh perasaanya. Aku bertekad jua akan mengakhiri roman yang belum tentu berakhir bahagia ini, hari demi hari aku lalui. Tuhan ternyata aku bisa, aku bisa melepaskan semua perasaan itu tanpa ada bekas sedikitpun, aku lah pemenangnya? tidakk!! ternyata aku keliru
Ternyata taman hatiku tetap di pupuknya dan tetap bersemi, aku lelah melawan pada skenarioNya. Aku serahkan semuanya kepada Tuhan. Tapi, endingnya begitu memilukan, dikubur saja hidup-hidup taman hati itu hingga tak bersisa tanpa ampun dan tanpa belas kasihan sedikitpun. Tuhan,bagaimanalah ini? Betapa murahnya hidup ini, dia takan dengar lagi cerita-ceritaku, dia dan aku hanya tinggal sepenggal kenang-kenangan indah, dan semua yang indah saja.Perih tak terkirakan, Tak terkatakan, maka disini tentu tak di tuliskan . Aku hanya ingin mengenang yang indah-indah saja tentangnya, linangan air mata , mata suram dan kepedihan yang dia torehkan untukku, betapa hebat aniaya yang bukan jadi haku sendiri diberikanya untuku hingga memadamkan sinar mataku, sungguh aku telah melupakanya, meski belum bisa, aku berjanji akan melupakanya. Ingat itu janjiku.
Aku memang tidak cerdas berfikir tapi hatiku ini masih bisa menerima kebenaran meski setitik. Lama juga ternyata aku bertaut dengan masa lalu yang keliru, dan sekarang  aku sadar sedang bertengger di muka bumi  dengan balutan rasa gelisah tak tentu arah kiblatnya.
Disaat seperti itu, aku perlahan sadar betapa rapuhnya diri yang sok tegar dan kuat tanpa bantuaNya. Teringat pada teman yang mengatakan, sahabat yang baik maka ia akan mengingatkan kita kepada Tuhan dan akan semakin membawa kita pada kehidupan yang positif, jauh dari aniaya, di saat itulah mata hatiku mulai bisa menerima kebenaran. Tuhan begitu lamanya aku jauh dari jalanMu. Hasbunallah wanimal wakil , cukup Allah sebagai penolong dan Allah pula sebaik-baik  pelindung.Wahai masalah datanglah dengan kesombonganmu, aku tak takut, aku punya Allah.
Demi Allah yang maha Esa, sesungguhnya tidak disediakan jalan mudah  untuk menuju cintaMu, menitisnya air mata tatkala rindu, menitisnya air mata tatkala jauh. Namun janji Allah tetap segar dan mekar tanpa penghianatan karena aku tetap yakin.
Satu hal, aku tidak pernah menyesal mengenalnya, memberikan separuh hati ini untuknya, sungguh yang ditanamkanya memberikan efek positif pada diriku, aku dapat menyenyam ikhlas dan sabar, kuat dengan takdirMu.
Sekarang aku berdiri dari keterpurukanku, menggantikan hati yang telah pergi dengan sepotong hati yang baru, tidak ragu aku akan hal itu, Allah berpihak padaku.
Doa ku : Ya Allah sekiranya aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya kepadaMu, agar bertambah kekuatanku untuk mencintaiMu. amiin. Desember kelabu, itu sudah cukup menjadi catatan sejarah kelabu dalam hidup ku, meski ini hanya setitik mengenai hati yang tidak terpaut cinta padaNya, sungguh keterlaluan manusia yang begitu sempurna mencintai dunia secara berlebihan padahal cinta yang hakiki hanya milik Illahi.

            Email-email de’Nana ku namai catatan yang tercecer, dia sedang labil butuh tempat untuk curhat. Baiklah sudah kukatakan dari semula aku bersedia menjadi tempat curhatnya, aku si pendengar yang baik, enjoying in my life.

You Might Also Like

0 komentar

SUBSCRIBE

Like us on Facebook